Sejarah Singkat Hudaibiyah

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 11
...

Hudaibiyah adalah sebuah tempat bersejarah yang terletak di antara kota Jeddah dan Makkah, dekat persimpangan jalan menuju wilayah Thai Fada. Dahulu, tempat ini hanyalah sebuah desa kecil yang tidak begitu dikenal. Namun, peristiwa besar yang terjadi di sana menjadikannya salah satu lokasi penting dalam sejarah Islam. Tidak jauh dari Hudaibiyah terdapat pilar batas Tanah Haram, yaitu kawasan suci yang tidak diperbolehkan dimasuki oleh non-Muslim.

Menurut riwayat, nama Hudaibiyah berasal dari sebuah sumur yang ada di tempat tersebut. Pada tahun ke-6 Hijriyah, ketika Nabi Muhammad ﷺ bersama sekitar 1.500 sahabatnya berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah, rombongan berhenti di Hudaibiyah. Saat itu, mereka menghadapi kesulitan karena sumur di tempat tersebut kering dan tidak terdapat air yang mencukupi kebutuhan pasukan.

Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah ﷺ, mengapa mereka diperintahkan berhenti di tempat yang tidak memiliki sumber air. Dengan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah, beliau mengambil anak panahnya dan memerintahkan agar ditancapkan ke dasar sumur tersebut. Atas izin Allah SWT, air pun memancar dari sumur itu hingga cukup untuk kebutuhan seluruh kaum Muslimin. Sejak saat itulah, sumur tersebut dikenal dengan nama Hudaibiyah, dan nama itu kemudian melekat pada desa di sekitarnya.

Peristiwa di Hudaibiyah menjadi sangat terkenal karena terjadinya bai’at besar yang dikenal dengan sebutan Baiat Ridwan atau Bai’at Tahtasy-Syajarah (bai’at di bawah pohon). Bai’at ini terjadi ketika situasi antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy Makkah sangat menegangkan. Kaum Quraisy mencurigai kedatangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat bukan semata-mata untuk beribadah, melainkan untuk berperang. Ketegangan memuncak setelah beredar kabar bahwa utusan Rasulullah, Utsman bin Affan r.a., ditahan.

Dalam kondisi genting tersebut, Umar bin Khattab r.a. mendorong kaum Muslimin untuk berbai’at kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk kesetiaan dan kesiapan membela beliau hingga titik darah penghabisan. Orang pertama yang maju berbai’at adalah Sinan bin Abu Sinan Al-Asady. Ia menyatakan kesiapannya untuk berjuang dengan pedang di hadapan Rasulullah hingga Allah memberikan kemenangan atau ia gugur sebagai syahid. Setelah itu, secara bergelombang sekitar 1.500 sahabat berbai’at dengan penuh keikhlasan dan keberanian.

Peristiwa bai’at ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surah Al-Fath ayat 18: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” Ayat ini menunjukkan betapa agungnya peristiwa tersebut, hingga Allah sendiri menyatakan keridhaan-Nya kepada para sahabat yang berbai’at.

Akhir dari ketegangan itu bukanlah peperangan, melainkan sebuah perjanjian damai yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun secara lahiriah isi perjanjian tersebut tampak merugikan kaum Muslimin, Rasulullah ﷺ menerimanya dengan penuh kebijaksanaan. Perjanjian ini justru menjadi pintu kemenangan besar bagi Islam, karena memberi kesempatan dakwah berkembang tanpa tekanan peperangan.

Dengan demikian, Hudaibiyah bukan sekadar nama sebuah desa atau sumur, melainkan simbol kesabaran, keteguhan iman, dan strategi dakwah yang penuh hikmah. Dari tempat inilah kaum Muslimin belajar bahwa kemenangan tidak selalu diraih melalui pedang, tetapi juga melalui kesabaran, persatuan, dan ketaatan kepada pemimpin yang mendapat bimbingan wahyu. Peristiwa Hudaibiyah menjadi bukti nyata bahwa pertolongan Allah datang kepada mereka yang teguh dan ikhlas dalam membela agama-Nya.


Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR