KHUTBAH IDUL FITRI ; OASE FITRAH: MENEMUKAN KEAGUNGAN ILAHI DALAM CERMIN PERSAUDARAAN Sebuah Risalah Ruhani tentang Hakikat Kebersamaan Oleh Habib Syarief Muhammad Al Aydrus

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 70
...

Disampaikan khutbah Idul Fitri ini pada : Maret 2026 M / 1 Syawal 1447 H di Masjid Assalaam Jln. Sasakgantung No.11 Bandung اَللّٰهُ أَكْبَرْ(9×) اَللّٰهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ هُوَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَمَعَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى طَاعَتِهْ. وَأَلَّفَ بَيْنَهُمْ بِنِعْمَتِهْ. وَجَعَلَ الْإِسْلاَمَ دِيْنَ الْأُخُوَّةِ وَالْوِحْدَةِ وَاجْتِمَاعِيَّتِهْ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا هَدَاناَ لِلْإِيْمَانِ لِقُوَّتِهْ. وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهْ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً مُتَحَابِّيْنَ فِيْهْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى اْلأُلْفَةِ وَرَحْمَتِهْ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ عَلَى نَهْجِهْ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهْ. وَتَمَسَّكُوْا بِحَبْلِهِ قُوَّاهْ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْإِسْلاَمَ دِيْنُ الْجَمَاعَةِ لاَ الْفِرْقَةْ. قال الله تعالى: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.

Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

            Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita sekalian. Nikmat Iman, Islam serta sehat wal ‘afiat menjadi energi semangat bagi kita menunaikan shalat Idul Fithri di masjid yang mulia ini. Mudah-mudahan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

            Sholawat dan salam semoga tercurah-limpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya termasuk kepada kita sekalian ummatnya. Mudah-mudahan di akherat kelak mendapat syafaat darinya. Amiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Membasuh Jiwa di Telaga Takbir

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

  Sejak fajar menyingsing, cakrawala batin kita tidak lagi diisi oleh ketiadaan yang niskala, melainkan oleh getaran frekuensi takbir yang melangit. Takbir yang kita kumandangkan, bukanlah sekadar orkestra suara yang memenuhi ruang publik, melainkan sebuah untaian ruh kolektif, suara jiwa-jiwa yang bersatu dalam satu pengakuan eksistensial: "Allahu Akbar", Allah Maha Besar, dan aku adalah ketiadaan yang kecil. Di titik inilah, Idul Fitri mengharuskan terjadinya sebuah dekonstruksi ego, sebuah peruntuhan tembok-tembok keakuan agar yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita semua hanyalah hamba yang berdiri sejajar di hadapan Sang Khalik.

Perhatikanlah bagaimana getaran suara ini meruntuhkan sekat-sekat yang selama ini kita bangun dengan angkuh. Takbir adalah proklamasi bahwa egoku harus runtuh agar cahaya-Nya dapat bertahta. Di hadapan keagungan-Nya, yang kaya dan yang miskin menyatu dalam satu frekuensi, yang berpangkat dan yang jelata berdiri sejajar tanpa kasta. Kita menyadari bahwa Islam hadir bukan sekadar sebagai ritus formal yang kering, melainkan sebagai agama kebersamaan, sebuah sistem keyakinan yang berupaya menyatukan hati sebelum menyatukan langkah.

Idul Fitri adalah sebuah paradigma kembali ke asal, sebuah momen di mana kita berdiri dalam bentangan rahmat-Nya yang tak bertepi. Setelah sebulan penuh kita ditempa oleh madrasah Ramadhan, kita diajak untuk menanggalkan jubah individualisme yang egois. Puasa telah mendidik kita untuk menundukkan hawa nafsu, namun tujuannya bukan sekadar disiplin individual, melainkan untuk melembutkan hati terhadap sesama. Jika puasa tidak menjadikan kita lebih peka terhadap rintihan saudara, maka kita hanya mendapatkan lapar tanpa makna.

 Maka, di pagi yang penuh khidmat ini, mari kita hayati bahwa kembalinya kita kepada fitrah berarti kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling bertautan. Manusia diciptakan bukan sebagai pulau yang terisolasi, melainkan sebagai jembatan kasih antara satu dengan yang lain. Kita merayakan kemenangan ini bukan karena kita telah mengalahkan orang lain, melainkan karena kita telah berhasil mengalahkan musuh terbesar dalam diri kita sendiri, yaitu keangkuhan yang memisahkan kita dari rahim persaudaraan

 Epistemologi Kebersamaan : Dialektika Jami’an dan Penyatuan Hati

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Hadirin jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,

       Kesadaran kolektif ini berakar kuat pada landasan teologis yang tertuang dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:

 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Artinya : “Berpegangteguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai”.

 Ayat ini tidak sekadar memerintahkan kepatuhan individual, melainkan menekankan sebuah interdependensi organik melalui diksi “Jami’an” (bersama-sama). Allah SWT kemudian menyempurnakan pesan ini dengan mengingatkan kita pada nikmat terbesar: “idz kuntum a’daa’an fa allafa baina quluubikum”, ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Allah-lah yang menjahit kembali serpihan hati kalian melalui nikmat-Nya hingga kalian menjadi bersaudara.

            Secara filosofis, kebersamaan ini adalah cerminan dari konsep Tauhid. Karena Allah SWT itu Ahad (Maha Satu), maka seluruh ciptaan-Nya pada hakikatnya berasal dari sumber yang tunggal dan akan kembali kepada Yang Satu. Dalam pandangan sufistik, perpecahan antarmanusia dianggap sebagai penyakit hati yang akut karena pelakunya gagal melihat "jejak Tuhan" pada diri orang lain. Kebersamaan, dengan demikian, adalah cara seorang hamba untuk meniru sifat kasih sayang Allah SWT (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) yang meliputi segala sesuatu.

            Dalam diskursus kontemporer, filsuf Maroko Taha Abdurrahman menawarkan gagasan mengenai "Al-I’timan" atau Teori Perwalian Etis. Beliau menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kedewasaan ruhani jika ia memandang sesamanya hanya sebagai objek atau saingan. Keberadaan "orang lain" adalah amanah Ilahi yang harus dijaga martabatnya. Kemanusiaan kita baru akan utuh ketika kita memandang wajah sesama sebagai cermin untuk melihat kekurangan diri kita sendiri, bukan sebagai sasaran untuk menunjukkan superioritas.

            Gagasan ini bersenyawa dengan pemikiran Muhammad Iqbal mengenai hubungan antara individu dan komunitas. Iqbal melihat bahwa pengorbanan ego adalah energi etis yang menyuburkan semangat kebangkitan umat. Tanpa kesediaan untuk melebur dalam harmoni kolektif, suatu umat hanya akan menjadi penonton pasif dalam panggung sejarah. Idul Fitri adalah momen untuk mereaktivasi energi etis tersebut, mengubah "kesendirian kolektif" manusia modern menjadi sebuah persatuan yang bermakna di bawah naungan kalimat tauhid.

 Fenomenologi Ukhuwah: Transformasi Ruhani dalam Tiga Bentang Jalan

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Hadirin jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT,

 

           Mari kita selami lebih dalam bagaimana Islam membimbing kita menaiki anak tangga kebersamaan ini, bukan sebagai teori yang beku, melainkan sebagai perjalanan ontologis yang hangat.

 1.     Anak Tangga Pertama: Ta’aruf (Mengenali Jejak Cahaya)

Ta’aruf sering kali kita maknai secara dangkal hanya sebagai pertukaran nama atau latar belakang fisik. Namun, dalam kedalaman maknanya, Ta’aruf adalah upaya sadar untuk mengenali karakter dan membuang prasangka agar tidak terjadi perpecahan. Ia adalah momen di mana kita membuka tirai kecurigaan dan mulai melihat bahwa setiap manusia memiliki keunikan yang diciptakan Allah SWT untuk saling melengkapi. Tanpa Ta’aruf yang jujur, kebersamaan kita hanyalah kerumunan raga yang asing satu sama lain. Firman Allah SWT pada surat Al-Hujarat ayat 13 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ

Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

 Ayat ini menunjukkan bahwa : 1) Perbedaan adalah sunnatullah, 2) Tujuan perbedaan adalah ta‘aruf (saling mengenal), bukan konflik, 3) Identitas sosial adalah bagian dari rencana Ilahi.

Manusia membutuhkan kerjasama. Tidak ada manusia yang mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Dalam kehidupan keseharian kita dapatkan ; petani menanam, pedagang mendistribusikan, guru mengajar, dan dokter mengobati. Menurut Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa manusia secara alami membutuhkan ta‘awun (kerja sama) karena satu orang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Tanpa kerja sama, peradaban tidak akan lahir.

 2.     Anak Tangga Kedua: Tafahum (Tempat Bernaungnya Empati)

Setelah saling mengenal, kita mendaki menuju Tafahum, sebuah fase di mana kita saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di sini, toleransi (tasamuh) bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas kehidupan. Kita tidak lagi menghakimi mengapa saudaramu berbeda pendapat, melainkan kita mencoba menyelami alasan di balik tindakannya. Tafahum mengajarkan kita bahwa hati manusia adalah tempat yang sakral, ia adalah "taman" di mana kita bertemu melampaui konsep benar dan salah, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Jalaluddin Rumi. ;

 

خَارِجُ مَفْهُوْمِي الصَّوَابُ وَالْخَطَأُ هُنَاكَ حَدِيْقَةٌ. هُنَاكَ سَأَلْقَاكَ

“Di luar konsep benar dan salah, ada sebuah taman. Di sanalah aku akan menemuimu.”

 Islam mengajak kita bertemu di taman itu, taman persaudaraan. Umat yang satu, hati yang saling menjaga. Allah SWT berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

 Persaudaraan dalam Islam bukan karena darah, bukan karena suku, bukan karena pilihan politik, tetapi karena iman dan kemanusiaan.

 3.   Anak Tangga Puncak: Takaful (Kesatuan Biologis Ruhani)

Inilah puncak tertinggi, Takaful, di mana kita saling menanggung beban. Pada level ini, ukhuwah kita telah bertransformasi menjadi sebuah interdependensi yang sehat, bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan. Kita tidak dapat merasa cukup saat tahu saudara kita lapar, dan kita tidak bisa merasa sehat saat mengetahui saudara kita tengah sakit. Inilah standar iman yang sesungguhnya, bukan seberapa tinggi ibadah pribadimu, melainkan seberapa luas cintamu yang mampu merangkul penderitaan sesama.

 Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin Ar-Razi menegaskan : Persaudaraan iman lebih kuat daripada persaudaraan darah, karena darah terputus oleh kematian, sedangkan iman berlanjut hingga akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ

تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى

Artinya : Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Dan beliau bersabda:

إِنَّ يَدَ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Kekuasaan Allah bersama jamaah.” (HR. Tirmidzi)

 Dua hadits diatas memberikan pengertian bahwa keberkahan turun pada kebersamaan, perlindungan Allah menaungi persatuan dan perpecahan membuka pintu kelemahan.

 Ketiga tingkatan ini bukanlah anak tangga yang terpisah, melainkan sebuah kontinum ruhani yang harus kita lalui setiap hari. Tanpa Ta'aruf yang jujur, Tafahum tidak akan pernah tegak, dan tanpa Tafahum yang dalam, Takaful hanya akan menjadi retorika kosong. Idul Fitri menantang kita untuk mencapai puncak Takaful, di mana kita menjadi pelindung dan penanggung bagi sesama, membuktikan bahwa iman kita telah melampaui batas-batas kepentingan pribadi.

 Arsitektur Ibadah : Desain Sosial Menuju Kesetaraan Mutlak

Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

            Idul Fitri mengingatkan kita bahwa hampir seluruh ibadah utama dalam Islam didesain secara sistematis untuk dilakukan bersama-sama, mengandung pesan sosiologis yang sangat tajam.

            Shalat Berjamaah adalah prototipe penghapusan kasta sosial yang paling radikal. Saat kita berdiri rapat dan bersujud dalam barisan, dahi seorang cendekiawan menyentuh tanah pada level yang sama dengan seorang buruh. Hal ini menunjukkan kesetaraan mutlak di hadapan Allah SWT, sebuah pernyataan bahwa tidak ada manusia yang memiliki hak untuk merasa lebih tinggi dari yang lain karena atribut duniawi. Shalat berjamaah mendidik kita bahwa ritme hidup kita haruslah selaras dengan ritme kolektif di bawah kepemimpinan yang benar.

            Zakat Fitrah yang kita tunaikan sebelum shalat id berfungsi sebagai jembatan ekonomi dan spiritual antara si kaya dan si miskin. Ia adalah alat untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun rumah yang diliputi kelaparan di hari kemenangan ini. Zakat mencegah terjadinya kesenjangan yang memicu kebencian sosial dan memastikan bahwa kebahagiaan Idul Fitri didistribusikan secara adil ke seluruh lapisan umat. Ia adalah latihan bagi jiwa untuk melepaskan keterikatan pada materi demi kemaslahatan bersama.

           Ibadah Haji adalah puncak dari kebersamaan global, di mana jutaan manusia dari berbagai bangsa memakai kain putih yang sama (Ihram). Di sana, semua identitas suku, bangsa, dan pilihan politik ditanggalkan. Haji mengajarkan bahwa persaudaraan dalam Islam bersifat universal, melampaui batas-batas geografis. Ia adalah miniatur dari hari kebangkitan, mengingatkan kita bahwa pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya sebagai satu kesatuan umat manusia yang bertanggung jawab atas satu sama lain.

            Seluruh desain ibadah ini mengarah pada satu titik, pembentukan karakter sosial. Puasa mendidik adab sosial kita agar tidak berkata kotor dan tidak berbuat kasar terhadap sesama. Jika ibadah hanya berhenti pada aspek ritual tanpa berdampak pada kesalehan sosial, maka ia kehilangan ruhnya. Idul Fitri adalah saat di mana kita membuktikan bahwa ritual tersebut telah bertransformasi menjadi etika hidup yang nyata dalam hubungan kita dengan sesama manusia.

 Narasi Keteladanan Pertama: Salahuddin Al-Ayyubi dan Diplomasi Kasih Sayang

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

            Izinkan saya membawa Anda kembali ke sebuah fragmen sejarah yang agung, sebuah peristiwa yang hingga kini masih menjadi standar tertinggi kemanusiaan dalam Islam. Kita berbicara tentang Sultan Salahuddin Al-Ayyubi pada musim gugur tahun 1187, saat beliau berdiri di depan pintu gerbang Yerusalem. Sejarah mencatat bahwa ketika kota itu berhasil diambil alih, dunia menunggu dengan napas tertahan, membayangkan apakah akan terjadi pertumpahan darah sebagai aksi balas dendam atas peristiwa masa lalu.

            Namun, Salahuddin tidak datang sebagai penakluk yang haus darah. Beliau datang sebagai manifestasi dari sifat Ar-Rahman. Beliau menyaksikan keluarga-keluarga yang hancur dan anak-anak yang ketakutan di pihak lawan. Hatinya yang telah ditempa oleh riyadhah ruhani tidak membiarkan ego kemenangan menguasai dirinya. Salahuddin justru membebaskan ribuan tawanan tanpa tebusan. Bahkan, ketika harta baitul maal mulai menipis karena digunakan untuk menebus rakyat jelata yang miskin, Salahuddin menggunakan uang pribadinya untuk menjamin kemerdekaan mereka.

            Pesan dari kisah ini sangat dalam, Kebersamaan dalam Islam adalah sebuah ibadah yang melatih kita keluar dari penjara "Aku" menuju luasnya cakrawala "Kita". Salahuddin membuktikan bahwa kekuatan yang sejati bukanlah tentang seberapa banyak nyawa yang bisa kita ambil, melainkan seberapa banyak martabat manusia yang bisa kita selamatkan. Beliau mengajarkan bahwa puncak tertinggi dari kebersamaan adalah Al-Itsar, sikap mendahulukan kemaslahatan bersama di atas kepentingan diri sendiri. Hari ini, Idul Fitri menuntut kita untuk memiliki "Jiwa Salahuddin", jiwa yang mampu memaafkan tanpa menyimpan dendam, dan jiwa yang menjadi sumber ketenangan bagi orang lain

 Narasi Keteladanan Kedua: Al-Itsar dan Cinta yang Melampaui Maut

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

           Puncak tertinggi dari kebersamaan dalam Islam adalah Al-Itsar, sikap mendahulukan kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri, meskipun ia sendiri sedang membutuhkan. Ini adalah level kebersamaan yang bersifat "langit", di mana ego pribadi benar-benar lebur demi kemaslahatan bersama. Sejarah Islam tidak pernah kekurangan tinta untuk menuliskan kisah-kisah luar biasa tentang keberanian untuk berkorban ini.

            Mari kita renungkan kembali sebuah peristiwa yang menggetarkan singgasana Arsy di padang Yarmuk. Di tengah debu peperangan yang menyengat, tiga pejuang Muslim, Ikrimah bin Abi Jahal, Al-Harits bin Hisyam, dan Ayyasy bin Abi Rabi'ah, terbaring bersimbah darah dengan luka yang sangat parah. Rasa haus yang luar biasa menyiksa mereka di saat sakaratul maut menjemput. Ketika seorang pembawa air mendekati Ikrimah, ia mendengar Al-Harits merintih. Dengan sisa tenaga yang ada, Ikrimah menolak air itu dan menunjuk ke arah Al-Harits.

            Namun, drama kemanusiaan itu berlanjut. Saat air dibawa ke hadapan Al-Harits, ia mendengar rintihan Ayyasy. Al-Harits pun menolak air tersebut demi saudaranya. Dan ketika air sampai ke hadapan Ayyasy, ia telah menghembuskan napas terakhirnya. Pembawa air itu segera kembali ke Al-Harits, namun ia pun telah wafat. Akhirnya ia berlari menuju Ikrimah, dan pahlawan agung itu pun telah berpulang ke haribaan Ilahi. Mereka wafat dalam keadaan haus secara fisik, namun jiwa mereka sangat kenyang oleh cinta kepada sesama.

            Kisah ini adalah manifestasi nyata dari firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 mengenai kaum Anshar yang mengutamakan kaum Muhajirin di atas diri mereka sendiri . Al-Itsar membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot, melainkan pada kemurnian hati yang berserah total kepada Allah SWT. Di hari Idul Fitri ini, mampukah kita mengambil sedikit saja dari semangat itu? Mampukah kita memberikan "air kehidupan" berupa maaf, bantuan, atau perhatian kepada mereka yang membutuhkannya, meskipun kita sendiri sedang memikul beban?

 Menjahit Kembali Mozaik yang Retak

 Allaahu Akbar 3x Wa lillaahil hamd

 Jamaah Idul Fitri yang berbahagia,

            Kisah Salahuddin, Tiga pejuang muslim dan tangga-tangga ukhuwah yang kita bahas tadi haruslah menjadi cermin besar bagi kita. Idul Fitri adalah saat di mana kita berhenti menjadi hakim bagi sesama dan mulai menjadi saksi atas kebesaran Allah SWT melalui cinta. Jangan biarkan perayaan ini berakhir hanya pada hidangan lezat dan pakaian baru. Jadikanlah ia sebagai titik balik kehidupan, dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial.

            Ingatlah pesan Imam Al-Ghazali, bahwa hancurnya hati manusia sering kali bukan karena kebodohan, melainkan karena kerasnya ego yang enggan merendah. Jika kita ingin cahaya Ilahi menetap di hati kita, maka lapangkanlah hati itu dengan maaf. Mari kita pulang dari masjid ini dengan membawa semangat untuk membangun "jembatan kasih" di tengah masyarakat kita yang mungkin sedang terbelah.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

 KHUTBAH KE-2

 OASE FITRAH:

MENEMUKAN KEAGUNGAN ILAHI

DALAM CERMIN PERSAUDARAAN

 اَللّٰهُ أَكْبَرْ(7×) اَللّٰهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ هُوَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهْ. وَيُدِيْمُ عَلَيْنَا فَضْلَهُ وَتَأْيِيْدَهْ. نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ وَنَسْتَغْفِرُهُ اِسْتِغْفَارَ الْمُقَصِّرِيْنَ. وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ الْمُنِيْبِيْنَ. وَنَسْأَلُهُ الثَّبَاتَ فِي الدِّيْنِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً. وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ فَأَصْبَحُوا بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ دَعَا إِلَى الْوِحْدَةِ فِي زَمَنِ الْفُرْقَةِ وَأَرْسَى دَعَائِمَ الْمَحَبَّةِ فِي أَرْضٍ أَثْقَلَتْهَا الْعَصَبِيَّةُ وَالشِّقَاقُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ الْإِسْلَامَ دِينُ الْجَمَاعَةِ وَسِرُّ قُوَّتِهِ فِي وَحْدَتِهِ وَجَمَالُهُ فِي تَآلُفِ أَرْوَاحِ أَهْلِهِ. جَعَلَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَكَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

إِنَّ الْإِسْلَامَ لَمْ يَبْنِ أُمَّتَهُ عَلَى أَنْفُسٍ مُتَفَرِّقَةٍ. وَلَا عَلَى قُلُوبٍ مُتَنَافِرَةٍ. بَلْ أَقَامَهَا عَلَى أُخُوَّةٍ صَادِقَةٍ. وَمَحَبَّةٍ خَالِصَةٍ. وَتَعَاوُنٍ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. فَإِذَا تَفَرَّقَتِ الْقُلُوبُ ضَعُفَتِ الْقُوَى. وَإِذَا اجْتَمَعَتِ الْكَلِمَةُ قَوِيَ الْبُنْيَانُ. وَارْتَفَعَ الشَّأْنُ وَعَظُمَ السُّلْطَانُ. اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ. وَاجْعَلْنَا إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ فِيْكَ مُتَعَاوِنِيْنَ عَلَى طَاعَتِكَ. مُتَجَنِّبِينَ أَسْبَابَ الْفُرْقَةِ وَالنِّزَاعِ.

 Ya Allah, Ya Rahman, Ya Wadud...

Di fajar yang bersinar penuh kesucian ini, kami datang kepada-Mu membawa jiwa-jiwa yang letih oleh debu dunia. Kami adalah musafir yang sering kali kehilangan arah dalam belantara ego kami sendiri. Maka, basuhlah mata hati kami dengan embun kasih-Mu, agar kami mampu melihat keindahan wajah-Mu yang terpantul pada wajah saudara-saudara kami.

 Ya Ilahi, Sang Pemilik setiap detak jantung...

Jangan biarkan agama kami membeku menjadi sekadar tumpukan aturan tanpa ruh kemanusiaan. Jadikanlah tangan kami sebagai tangan yang selalu mencari, merengkuh, dan mengangkat mereka yang jatuh. Jadikanlah lisan kami seperti air yang mengalir tenang, yang memadamkan api amarah dan menumbuhkan bunga-bunga kedamaian di setiap hati yang gersang.

 Wahai Dzat yang Maha Menyatukan Hati...

Ikatlah kami dengan benang-benang ukhuwah yang ditenun dari cahaya iman-Mu. Agar saat satu dari kami merintih dalam kesedihan, kami semua ikut merasakan getirnya. Jadikanlah perbedaan di antara kami bukan sebagai tembok yang memisahkan, melainkan sebagai warna-warna yang memperindah pelangi kehidupan kami.

 Ya Allah, Ya Salaam...

Pulangkanlah kami pada fitrah-Mu yang suci. Ajari kami cara memaafkan dengan setulus tanah yang tetap memberi buah meski sering dilukai oleh bajak. Biarkanlah doa-doa kami pagi ini melesat melampaui awan, membawa harapan bagi mereka yang tertindas, kedamaian bagi bangsa kami, dan cahaya bagi setiap sudut hati yang masih gelap oleh dendam. Di depan pintu rahmat-Mu kami bersimpuh, memohon agar kebersamaan ini tidak hanya berakhir di dunia yang fana, namun abadi hingga kami berkumpul kembali di bawah naungan Arsy-Mu.

 Ya Allah, Yaa Ghaffaar Yaa Qohhaar

Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan ibu bapak kami, dosa anak dan keturunan kami, dosa para sahabat dan tetangga kami, dosa dan kesalahan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kami, juga dosa dan kesalahan orang yang telah berbuat buruk kepada kami. Bukakan pintu hati kami untuk selalu memaafkan mereka dan juga bukakan pintu hati mereka untuk memaafkan kami. Jadikan kami semua dalam kebersamaan iman dan Islam dan bangkitkan kami semua kelak di yaumil kiamah bersama dengan orang-orang yang beriman dan ahli kebaikan.

 Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

 رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR