PUASA RAMADHAN, JALAN MENUJU TAQWA ; Oleh KH. Lukman Hakim

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 29
...

Ramadhan bukan sekadar bulan dalam hitungan kalender hijriah. Ia adalah musim pulang. Musim ketika jiwa-jiwa yang letih oleh hiruk-pikuk dunia dipanggil kembali ke asalnya. Dalam kesunyian sahur, pada dahaga siang hari, dan dalam sujud panjang malam tarawih, manusia diajak menempuh perjalanan batin menuju satu maqam yang agung, yaitu taqwa. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini bukan hanya perintah, tetapi undangan cinta. Puasa bukan tujuan akhir, melainkan jalan. Ia adalah tangga ruhani yang mengangkat manusia dari sekadar makhluk jasmani menjadi hamba yang sadar akan kehadiran Ilahi.

 Secara lahiriah, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun dalam pandangan tasawuf, puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah imsak, penahanan diri dari segala sesuatu yang menjauhkan hati dari Allah.

 Para sufi membagi puasa dalam beberapa tingkatan:

1.   Puasa awam, yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan secara syariat.

2.   Puasa khawas, yaitu menjaga pancaindra dari dosa: mata dari pandangan yang haram, telinga dari ghibah, lidah dari dusta, dan hati dari prasangka buruk.

3.   Puasa khawasul khawas, yaitu mempuasakan hati dari selain Allah, tidak mengisi relung batin kecuali dengan dzikir, mahabbah, dan muraqabah.

 Pada tingkat tertinggi inilah puasa menjadi latihan fana; lenyapnya ego dalam samudera kehadiran-Nya. Lapar menjadi cahaya, dahaga menjadi dzikir, dan kelemahan fisik menjadi kekuatan ruhani. Karena ketika tubuh dilemahkan, ruh justru dikuatkan.

 Lapar sebagai Guru Kerendahan Hati

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering tertipu oleh rasa cukup. Perut yang kenyang kerap melahirkan kelalaian. Namun lapar mengajarkan hakikat ketergantungan. Saat tenggorokan kering dan tubuh melemah, kita menyadari betapa rapuhnya diri ini. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya. Lapar dalam Ramadhan adalah madrasah kerendahan hati. Ia meruntuhkan kesombongan, meluruhkan keangkuhan, dan menumbuhkan empati. Ketika kita merasakan perihnya dahaga, kita lebih mudah memahami derita mereka yang kekurangan. Dari sinilah lahir kasih sayang yang tulus, bukan sekadar formalitas sosial.

 

Dalam tasawuf, rasa lapar disebut sebagai salah satu pintu hikmah. Hati yang ringan dari beban syahwat lebih mudah menerima cahaya Ilahi. Sebab dosa dan kelalaian sering tumbuh subur dari syahwat yang tak terkendali. Puasa memotong akar itu perlahan, hingga hati kembali bening.

 Ramadhan sebagai Bulan Penyucian Jiwa

Ramadhan adalah proses tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Setiap detik dalam bulan ini mengandung peluang ampunan. Siang hari adalah medan kesabaran, malam hari adalah taman perjumpaan.

Shalat tarawih, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dan dzikir yang dipanjatkan bukanlah ritual kosong. Ia adalah dialog rahasia antara hamba dan Tuhannya. Dalam sunyi malam, ketika dunia terlelap, seorang hamba berdiri dengan hati yang gemetar. Ia menangis bukan karena takut semata, tetapi karena rindu. Puasa mengikis karat-karat hati. Ia membersihkan cermin batin yang lama tertutup debu dunia. Ketika cermin itu kembali jernih, cahaya kebenaran mudah memantul di dalamnya. Di situlah taqwa tumbuh, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kesadaran mendalam bahwa Allah selalu hadir.

 Taqwa: Kesadaran Ilahi dalam Setiap Nafas

Taqwa sering dimaknai sebagai takut kepada Allah. Namun dalam perspektif sufistik, taqwa lebih dekat kepada kesadaran penuh akan kehadiran-Nya. Ia adalah keadaan hati yang selalu merasa diawasi (muraqabah), sehingga setiap langkah dijaga, setiap kata ditimbang, dan setiap niat diluruskan. Puasa melatih keikhlasan yang murni. Berbeda dengan ibadah lain yang dapat terlihat manusia, puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di sinilah latihan kejujuran batin terjadi. Ketika seseorang mampu menahan diri dari yang halal karena perintah Allah, maka ia akan lebih mampu meninggalkan yang haram karena cinta kepada-Nya. Inilah buah taqwa. Ia bukan sekadar identitas religius, melainkan cahaya yang membimbing perilaku.

Ramadhan dan Transformasi Diri

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan yang datang dan pergi tanpa bekas. Ia adalah momentum transformasi. Seorang sufi memandang Ramadhan sebagai kesempatan untuk “mati sebelum mati”, mematikan hawa nafsu sebelum kematian yang sesungguhnya tiba. Dalam setiap sahur terdapat keberkahan, dalam setiap iftar terdapat syukur, dan dalam setiap sujud terdapat penyerahan total. Jika Ramadhan dijalani dengan kesadaran, maka setelah ia berlalu, hati akan menjadi lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan langkah lebih berhati-hati. Taqwa bukanlah pencapaian instan. Ia adalah hasil dari latihan terus-menerus. Ramadhan adalah laboratorium spiritual tempat jiwa ditempa. Setelah sebulan berlatih, seorang hamba diharapkan keluar sebagai pribadi yang lebih dekat dengan Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih waspada terhadap godaan dunia.

Ramadhan sebagai Perjalanan Cinta

Pada akhirnya, puasa Ramadhan adalah perjalanan cinta. Cinta yang membuat kita rela menahan lapar. Cinta yang membuat kita bangun di sepertiga malam. Cinta yang membuat air mata jatuh dalam doa-doa sunyi. Jika Ramadhan dijalani hanya sebagai kewajiban, ia mungkin terasa berat. Namun jika ia dipahami sebagai panggilan untuk mendekat, maka setiap detiknya menjadi manis. Lapar terasa ringan, dahaga menjadi nikmat, dan ibadah menjadi kebutuhan.

Semoga setiap Ramadhan yang kita jalani tidak sekadar berlalu sebagai rutinitas, tetapi menjadi jalan yang benar-benar mengantarkan kita pada maqam taqwa. Sebab taqwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan panjang menuju keabadian. Dan Ramadhan adalah undangan terbuka untuk mempersiapkan bekal itu dengan sepenuh hati. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya berpuasa secara lahir, tetapi juga berpuasa dengan hati. Yang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari segala yang menjauhkan dari-Nya. Dan pada akhirnya, kita sampai pada satu keadaan yang paling mulia: hati yang selalu bersama Allah.



Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR