PUASA SEBAGAI TIRAI NAFSU MENUJU CAHAYA ILAHI : Oleh KH. Lukman Hakim

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 102
...

Puasa adalah ibadah yang sunyi, namun sunyinya penuh cahaya. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah perjalanan ruhani yang menyingkap tabir antara hamba dan Tuhannya. Dalam tradisi tasawuf, puasa dipandang sebagai tirai bagi nafsu, sekaligus jendela bagi cahaya Ilahi. Ia menutup pintu-pintu syahwat yang liar, agar hati mampu menerima limpahan nur dari langit. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa bukanlah sekadar lapar, melainkan taqwa, kesadaran batin yang membuat seorang hamba hidup dalam pengawasan dan kehadiran Allah. Puasa adalah proses penempaan; ia membentuk jiwa melalui penahanan, membimbing hati melalui pengosongan, dan mengangkat ruh melalui penyucian.

 Nafsu : Tirai yang Menggelapkan Hati

Dalam pandangan sufistik, musuh terbesar manusia bukanlah dunia di luar dirinya, melainkan nafsu dalam dirinya. Al-Qur’an mengingatkan : “Sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Nafsu adalah energi. Ia bukan untuk dimatikan, tetapi untuk ditundukkan dan diarahkan. Ketika nafsu dibiarkan bebas, ia menjadi tirai tebal yang menutup hati dari cahaya kebenaran. Ia membisikkan kesombongan, menyalakan syahwat, dan menumbuhkan cinta dunia yang berlebihan. Puasa hadir sebagai tirai bagi nafsu. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai (junnah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Perisai yang dimaksud bukan hanya perlindungan dari dosa lahiriah, tetapi juga benteng dari gejolak batin. Ketika perut lapar, api syahwat meredup. Ketika syahwat meredup, hati menjadi lebih tenang. Dan ketika hati tenang, cahaya Ilahi lebih mudah masuk. Dalam tasawuf, hati diibaratkan cermin. Nafsu adalah debu yang menutupinya. Puasa adalah proses menggosok cermin itu agar kembali bening. Ketika ia bening, pantulan nur Allah tampak jelas di dalamnya.

 Lapar sebagai Jalan Tazkiyatun Nafs

Puasa adalah latihan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Allah berfirman : “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

 Penyucian jiwa tidak terjadi dalam kenyamanan yang berlebihan. Ia lahir dari perjuangan melawan dorongan-dorongan rendah. Lapar adalah salah satu cara paling efektif untuk menundukkan ego. Para ulama sufi menjelaskan bahwa perut yang kenyang sering mengeraskan hati. Sebaliknya, lapar yang terkontrol melembutkannya. Saat tubuh dilemahkan oleh puasa, kesadaran spiritual justru menguat. Seseorang menjadi lebih mudah menangis dalam doa, lebih peka terhadap kesalahan diri, dan lebih sadar akan kebutuhan kepada Allah.

 Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Hadits ini menunjukkan kemuliaan puasa. Ia adalah ibadah rahasia. Tidak ada yang mengetahui keasliannya kecuali Allah dan hamba itu sendiri. Di sinilah lahir keikhlasan yang murni, cahaya tersembunyi yang menerangi batin.

 Puasa dan Muraqabah: Kesadaran akan Kehadiran Allah

Puasa menumbuhkan muraqabah—merasakan diri selalu diawasi Allah. Ketika seseorang sendirian dan memiliki kesempatan untuk membatalkan puasanya tanpa diketahui manusia, tetapi ia tetap bertahan, di situlah tumbuh rasa malu kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

 Kesadaran ini adalah inti tasawuf. Puasa melatih hati agar selalu merasa dalam pandangan-Nya. Bukan sekadar takut, tetapi sadar dan mencintai. Nafsu yang tadinya liar perlahan menjadi tunduk karena ia tahu ada Yang Maha Melihat. Dalam keadaan seperti ini, puasa bukan lagi beban, tetapi kenikmatan ruhani. Lapar terasa ringan karena hati dipenuhi kehadiran-Nya. Dahaga menjadi indah karena ada harapan ridha-Nya.

 Dari Tirai Menuju Cahaya

Ketika nafsu tertundukkan, hati menjadi lapang. Dan dalam kelapangan itu turunlah cahaya Ilahi. Allah berfirman: “Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)

Cahaya ini bukan cahaya fisik, melainkan nur hidayah, ketenangan, keyakinan, dan kedekatan. Ia tidak bisa diraih dengan logika semata, tetapi dengan hati yang bersih. Puasa membuka pintu cahaya itu. Ia mengurangi keterikatan pada dunia agar hati mampu menatap akhirat. Ia menenangkan gelombang syahwat agar jiwa dapat merasakan kehadiran Rabb-nya. Dalam kesunyian menjelang berbuka, ketika doa dipanjatkan dengan hati yang lembut, sering kali seorang hamba merasakan getaran yang tak dapat dijelaskan. Itulah secercah cahaya yang menyentuh batin. Cahaya yang tidak datang karena kenyang, tetapi justru karena lapar.

Transformasi Spiritual: Dari Mujahadah ke Mahabbah

Puasa bermula dari mujahadah, perjuangan melawan diri sendiri. Namun jika dijalani dengan kesadaran, ia akan berbuah mahabbah, cinta kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ampunan adalah tanda cinta. Ketika Allah mengampuni, Dia membersihkan jalan hamba-Nya menuju-Nya. Puasa menjadi jembatan antara hamba yang penuh dosa dan Tuhan Yang Maha Pengampun. Dalam perjalanan ini, nafsu yang tadinya menjadi tirai berubah menjadi kendaraan. Ia tidak lagi memimpin, tetapi dipimpin. Ia tidak lagi menguasai, tetapi dikuasai. Dan ketika nafsu tunduk, cahaya Ilahi menetap.

Puasa adalah tirai bagi nafsu, tetapi bukan tirai bagi cahaya. Justru dengan menutup pintu-pintu syahwat, puasa membuka jendela langit. Ia menahan yang fana agar kita meraih yang kekal. Ia membatasi tubuh agar ruh menjadi luas. Setiap rasa lapar adalah panggilan untuk kembali. Setiap dahaga adalah pengingat bahwa jiwa kita lebih haus akan cahaya daripada tubuh haus akan air. Jika puasa dijalani dengan kesadaran sufistik, ia tidak berhenti pada perubahan fisik, tetapi melahirkan transformasi batin. Semoga puasa kita bukan hanya penahanan makan dan minum, tetapi penundukan nafsu dan pencerahan hati. Semoga ia benar-benar menjadi tirai yang melindungi kita dari kegelapan diri, dan sekaligus jalan menuju cahaya Ilahi yang tak pernah padam.



Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR