KHUTBAH IDUL FITRI 1447 H / 2026 M ISLAM AGAMA KEBERSAMAAN Oleh Drs. KH. Lukman Hakim

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 5
...

Disampaikan pada hari Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 06.20 WIB di Masjid Hidayatussalamah Jln Kebong Manggu Kota Bandung اَللّٰهُ أَكْبَرْ(9×) اَللّٰهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ هُوَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَمَعَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى طَاعَتِهْ. وَأَلَّفَ بَيْنَهُمْ بِنِعْمَتِهْ. وَجَعَلَ الْإِسْلاَمَ دِيْنَ الْأُخُوَّةِ وَالْوِحْدَةِ وَاجْتِمَاعِيَّتِهْ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا هَدَاناَ لِلْإِيْمَانِ لِقُوَّتِهْ. وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهْ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً مُتَحَابِّيْنَ فِيْهْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى اْلأُلْفَةِ وَرَحْمَتِهْ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ عَلَى نَهْجِهْ. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهْ. وَتَمَسَّكُوْا بِحَبْلِهِ قُوَّاهْ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْإِسْلاَمَ دِيْنُ الْجَمَاعَةِ لاَ الْفِرْقَةْ. قال الله تعالى: وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Segala puji hanya milik Allah SWT Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dialah yang mempertemukan kita kembali dengan hari yang suci, hari yang agung, hari kemenangan Idul Fitri, setelah sebulan penuh kita ditempa oleh madrasah Ramadhan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta umatnya yang setia meniti jalan cahaya hingga akhir zaman.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Perhatikanlah takbir yang kita kumandangkan sejak tadi malam. Ia tidak dilantunkan sendirian, tidak pula hanya dengan suara hati. Takbir adalah untaian ruh kolektif, suara jiwa-jiwa yang bersatu dalam pengakuan : “Allahu Akbar” Allah Maha Besar, dan aku kecil. Allah Maha Tinggi, dan egoku harus runtuh.

Dalam takbir, yang kaya dan yang miskin menyatu. Yang berpangkat dan yang jelata berdiri sejajar. Yang kuat dan yang lemah larut dalam satu pengakuan yang sama: kita semua hanyalah hamba.

Di sinilah Islam hadir bukan sekadar agama ritual, tetapi agama kebersamaan agama yang menyatukan hati sebelum menyatukan langkah. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegangteguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini tidak berkata “berpeganglah sendiri-sendiri”, tetapi “jami’an”, bersama-sama, menunjukkan sikap kebersamaan.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Makna kebersamaan dalam Islam dilihat dari berbagai sudut pandang:

1. Kebersamaan sebagai Cerminan Tauhid

Secara filosofis, karena Allah itu Ahad (Maha Satu), maka seluruh ciptaan-Nya pada hakikatnya berasal dari sumber yang satu dan akan kembali kepada Yang Satu. Dalam pandangan sufistik, perpecahan antarmanusia dianggap sebagai penyakit hati karena pelakunya gagal melihat "jejak Tuhan" pada diri orang lain. Kebersamaan adalah cara hamba untuk meniru sifat kasih sayang Allah (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) yang meliputi segala sesuatu.

2. Konsep Bun-yanun Marshush (Bangunan yang Kokoh)

Islam menggambarkan kebersamaan umat bagaikan sebuah struktur bangunan. Rasulullah SAW bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagiakan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan." (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam analogi ini, setiap individu adalah "batu bata". Jika satu batu bata rapuh, maka seluruh bangunan terancam roboh. Kebersamaan di sini bermakna interdependensi (saling ketergantungan) yang sehat :

Ø Saling Menutupi Kekurangan: Lubang pada satu sisi ditutup oleh sisi yang lain.

Ø Distribusi Beban: Masalah berat menjadi ringan karena dipikul bersama secara kolektif.

3. Kebersamaan dalam Dimensi Ibadah

Hampir seluruh ibadah utama dalam Islam didesain untuk dilakukan bersama-sama, yang mengandung pesan sosial yang kuat:

Ø Shalat Berjamaah: Menghapuskan kasta sosial; sujud dalam barisan yang rapat menunjukkan kesetaraan mutlak di hadapan Allah.

Ø Zakat: Jembatan antara si kaya dan si miskin agar tidak terjadi kesenjangan yang memicu kebencian.

Ø Haji: Puncak kebersamaan global, di mana jutaan manusia dengan latar belakang berbeda memakai pakaian yang sama (Ihram) untuk tujuan yang sama.

4. Tingkatan Kebersamaan dalam Islam

Para ulama membagi kualitas kebersamaan (ukhuwah) menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan

Makna

Ta'aruf

Saling mengenal secara fisik, latar belakang, dan karakter agar tidak terjadi prasangka.

Tafahum

Saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga muncul sikap toleransi (tasamuh).

Takaful

Saling menanggung beban. Di titik ini, seseorang merasa sakit ketika saudaranya sakit, dan merasa cukup ketika saudaranya kenyang.

5. Makna Al-Itsar (Mendahulukan Orang Lain)

Puncak tertinggi dari kebersamaan dalam Islam adalah Al-Itsar, yaitu sikap mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan diri sendiri, meskipun ia sendiri sedang membutuhkan. Allah memuji sikap ini dalam Surat Al-Hasyr ayat 9:

وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ

Artinya : Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.

Ini adalah level kebersamaan yang bersifat "langit", di mana ego pribadi benar-benar lebur demi kemaslahatan bersama.

Kebersamaan dalam Islam adalah ibadah. Ia adalah alat untuk melatih diri keluar dari penjara "Aku" (egoisme) menuju luasnya cakrawala "Kita" (altruisme). Tanpa kebersamaan, Islam hanya akan menjadi sederet ritual formal tanpa ruh sosial.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Ramadhan mendidik kita untuk menundukkan hawa nafsu. Kita menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah. Namun pertanyaannya, untuk apa semua itu?

Apakah puasa hanya menjadikan kita ahli menahan lapar, tetapi masih mudah melukai perasaan saudara? Apakah Ramadhan hanya melatih kita bangun malam, tetapi masih berat untuk memaafkan? Puasa sejati bukan sekadar menahan diri dari yang halal, tetapi melembutkan hati terhadap sesama.

Rasulullah SAW bersabda:

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ

“Puasa itu adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berbuat kasar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa mengajarkan adab sosial, bukan sekadar disiplin individual.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Dan fitrah manusia bukanlah hidup sendiri, melainkan hidup bersama. Manusia diciptakan bukan sebagai pulau yang terpisah, tetapi sebagai jembatan kasih antara satu dengan yang lain.

Karena itu, di hari ini Islam memerintahkan:

  • Zakat fitrah, agar yang lapar ikut kenyang
  • Silaturahmi, agar yang jauh kembali dekat
  • Saling memaafkan, agar yang luka kembali sembuh

 

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah standar iman dalam Islam: bukan seberapa tinggi ibadahmu, tetapi seberapa luas cintamu.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa sumber perpecahan adalah ego (nafs). Selama “aku” masih lebih penting daripada “kita”, selama pendapatku harus menang, selama kelompokku harus benar, maka kebersamaan hanya menjadi slogan.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata :

تَحَطُّمُ قَلْبِ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِسَبَبِ الجَهْلِ وَلَكِنْ بِسَبَبِ صُلْبِ الأَنَانِي الَّذِي يَرْفُضُ التَّوَاضُعَ.

“Hancurnya hati manusia bukan karena kebodohan, tetapi karena kerasnya ego yang enggan merendah.”

Tasawuf mengajarkan kita untuk fana’, meleburkan keakuan, agar yang tersisa hanyalah kasih.

Imam Jalaluddin Al- Rumi berkata dengan indah :

خَارِجُ مَفْهُوْمِي الصَّوَابُ وَالْخَطَأُ هُنَاكَ حَدِيْقَةٌ. هُنَاكَ سَأَلْقَاكَ

“Di luar konsep benar dan salah, ada sebuah taman. Di sanalah aku akan menemuimu.”

Islam mengajak kita bertemu di taman itu, taman persaudaraan. Umat yang Satu, Hati yang Saling Menjaga. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan dalam Islam bukan karena darah, bukan karena suku, bukan karena pilihan politik, tetapi karena iman dan kemanusiaan.

Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

أَخُوكَ لَيْسَ مَنْ يُؤَيِّدُكَ دَائِمًا بَلْ مَنْ يُذَكِّرُكَ بِالمَحَبَّةِ

“Saudaramu bukan yang selalu membenarkanmu, tetapi yang mengingatkanmu dengan cinta.”

Maka jangan biarkan perbedaan merusak ukhuwah. Sebab perbedaan adalah rahmat, sementara permusuhan adalah musibah.

Allaahu Akbar 3x, Wa lillaahil Hamd

Di hari yang suci ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

Ø Sudahkah aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh?

Ø Sudahkah aku memaafkan tanpa menyimpan dendam?

Ø Sudahkah aku menjadi sumber ketenangan bagi orang lain?

Ibnu Atha’illah As-Sakandari berkata :

اَلْقَلْبُ الْمَمْلُوْءُ بِالضَّغِيْنَةِ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَحْتَضِنَ نُوْرَ اللهِ.

“Hati yang dipenuhi dendam tidak akan mampu menampung cahaya Ilahi.”

Jika kita ingin cahaya Allah menetap di hati kita, maka lapangkan hati itu dengan maaf.

Mari kita jadikan Idul Fitri ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi titik balik kehidupan. Dari ego menuju empati. Dari aku menuju kita. Dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial. Semoga kita menjadi umat yang kuat karena kebersamaan, bukan rapuh karena perpecahan.

اَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KE-2

ISLAM AGAMA KEBERSAMAAN

 

اَللّٰهُ أَكْبَرْ(7×) اَللّٰهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ هُوَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهْ. وَيُدِيْمُ عَلَيْنَا فَضْلَهُ وَتَأْيِيْدَهْ. نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ وَنَسْتَغْفِرُهُ اِسْتِغْفَارَ الْمُقَصِّرِيْنَ. وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ الْمُنِيْبِيْنَ. وَنَسْأَلُهُ الثَّبَاتَ فِي الدِّيْنِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً. وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ فَأَصْبَحُوا بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ دَعَا إِلَى الْوِحْدَةِ فِي زَمَنِ الْفُرْقَةِ وَأَرْسَى دَعَائِمَ الْمَحَبَّةِ فِي أَرْضٍ أَثْقَلَتْهَا الْعَصَبِيَّةُ وَالشِّقَاقُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ الْإِسْلَامَ دِينُ الْجَمَاعَةِ وَسِرُّ قُوَّتِهِ فِي وَحْدَتِهِ وَجَمَالُهُ فِي تَآلُفِ أَرْوَاحِ أَهْلِهِ. جَعَلَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَكَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

إِنَّ الْإِسْلَامَ لَمْ يَبْنِ أُمَّتَهُ عَلَى أَنْفُسٍ مُتَفَرِّقَةٍ. وَلَا عَلَى قُلُوبٍ مُتَنَافِرَةٍ. بَلْ أَقَامَهَا عَلَى أُخُوَّةٍ صَادِقَةٍ. وَمَحَبَّةٍ خَالِصَةٍ. وَتَعَاوُنٍ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. فَإِذَا تَفَرَّقَتِ الْقُلُوبُ ضَعُفَتِ الْقُوَى. وَإِذَا اجْتَمَعَتِ الْكَلِمَةُ قَوِيَ الْبُنْيَانُ. وَارْتَفَعَ الشَّأْنُ وَعَظُمَ السُّلْطَانُ. اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ. وَاجْعَلْنَا إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ فِيْكَ مُتَعَاوِنِيْنَ عَلَى طَاعَتِكَ. مُتَجَنِّبِينَ أَسْبَابَ الْفُرْقَةِ وَالنِّزَاعِ

يَا اَللّهُ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

Ya Allah, Tuhan semesta alam. Jadikanlah kami semua bersaudara dalam agama-Mu, saling mencintai dengan kasih-Mu dan saling mengasihi dengan rahmat-Mu, satukan hati kami dengan cahaya iman dan kedamaian.

يَا اَللّهُ يَا رَحْمنُ يَارَحِيْمُ

Ya Allah, Jadikanlah kami ketenangan satu sama lain, bimbinglah kami pada mimpi-mimpi kebaikan dan keamanan, rezekikanlah kami agar menjadi satu keluarga dalam ketaatan-Mu, tersinari oleh Al-Qur’an-Mu dan berjalan di jalan petunjuk-Mu, saling berbagi sukacita dan saling menghormati dalam kesedihan.

يَا اَللّهُ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

Ya Allah, Jadikanlah setiap Muslim hati yang terhubung dengan ukhuwah, satukanlah kami di jalan kebenaran dan cinta, jadikanlah hari-hari kami penuh ketenangan dan kebahagiaan, dan karuniakanlah kepada kami untuk selalu memberi dukungan dan kasih sayang.

يَا اَللّهُ يَا مُؤْمِنُ يَا سَلاَمُ

Ya Allah, Jadikan setiap pintu yang kami masuki penuh ketenangan dan keikhlasan, setiap kata yang kami ucapkan penuh cinta dan aspirasi untuk kebaikan sesama, dan setiap tangan yang kami ulurkan kepada orang lain penuh kepedulian dan pemberian.

يَا اَللّهُ يَا فَتَّاحُ يَا عَلِيْمُ

Ya Allah, Jadikanlah agama kami sebagai agama kedamaian dan persaudaraan, jadikan hati kami sebagai pelindung cinta dan ketenangan, satukanlah kami semua di bawah rahmat dan petunjuk-Mu, jadikan Islam sebagai penguasa atas hawa nafsu kami, ukhuwah sebagai ketenangan hati kami, dan kerendahan hati serta cinta sebagai jalan yang selalu kami lalui.

يَا اَللّهُ يَا غَفَّارُ يَاقَهَّارُ

Ya Allah, Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan ibu bapak kami, dosa anak dan keturunan kami, dosa para sahabat dan tetangga kami, dosa dan kesalahan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kami, juga dosa dan kesalahan orang yang telah berbuat buruk kepada kami. Bukakan pintu hati kami untuk selalu memaafkan mereka dan juga bukakan pintu hati mereka untuk memaafkan kami. Jadikan kami semua dalam kebersamaan iman dan Islam dan bangkitkan kami semua kelak di yaumil kiamah bersama dengan orang-orang yang beriman dan ahli kebaikan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 


Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR