PUASA, MENAHAN LAPAR UNTUK MENGENYANGKAN JIWA ; Oleh KH. Lukman Hakim

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 18
...

Puasa adalah rahasia yang sunyi. Ia tidak gaduh seperti sedekah yang tampak, tidak pula lantang seperti azan yang terdengar. Puasa bekerja dalam diam di relung perut yang kosong, di tenggorokan yang kering, di hati yang belajar tunduk. Ia adalah ibadah yang menahan, tetapi justru karena itulah ia mengalirkan kepenuhan. Kita menahan lapar untuk mengenyangkan jiwa; kita membatasi tubuh untuk melapangkan ruh.

Dalam perjalanan hidup yang serba cepat, manusia sering mengira bahwa kenyang adalah tanda cukup, dan cukup adalah tanda bahagia. Namun pengalaman ruhani mengajarkan sebaliknya: terlalu kenyang sering membuat hati tumpul, terlalu banyak sering membuat jiwa bising. Puasa datang sebagai guru yang lembut, mengajari bahwa kekosongan lahiriah bisa menjadi pintu kepenuhan batiniah.

Lapar sebagai Jalan Kesadaran

Lapar bukan sekadar sensasi fisik. Ia adalah isyarat bahwa kita makhluk yang bergantung. Ketika perut bergejolak meminta diisi, kita diingatkan bahwa hidup ini ditopang oleh karunia yang tak pernah benar-benar kita miliki. Kita tidak menciptakan sebutir nasi pun; kita hanya menerimanya sebagai anugerah. Maka saat puasa mengajarkan kita menahan diri dari yang halal sekalipun, sesungguhnya ia sedang membangunkan kesadaran terdalam: laa haula wa laa quwwata illaa billaah, tiada daya upaya dan kekuatan selain dari-Nya.

Dalam khazanah tasawuf, lapar disebut sebagai salah satu pintu hikmah. Ia menipiskan selubung syahwat yang sering menutup mata hati. Nafsu yang selalu dituruti akan mengeras seperti batu; tetapi ketika ia dibatasi, ia menjadi jinak dan dapat diarahkan. Lapar melembutkan, menundukkan, dan mengajari. Ia seperti pahat halus yang membentuk jiwa menjadi lebih peka terhadap bisikan Ilahi.

Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah imsak dari segala yang melalaikan: menahan mata dari pandangan yang merendahkan martabat, menahan telinga dari kabar yang mengotori hati, menahan lisan dari kata yang melukai, dan menahan pikiran dari prasangka yang mengeruhkan. Di sinilah lapar lahiriah menjelma menjadi kejernihan batiniah.

 Mengosongkan untuk Diisi

Secara lahir, puasa adalah pengosongan. Namun setiap pengosongan dalam spiritualitas bukanlah kehilangan, melainkan persiapan untuk diisi. Gelas yang penuh tidak bisa menerima tambahan air; hati yang penuh oleh ambisi dunia sulit menerima cahaya Ilahi. Maka puasa mengosongkan sebagian isi dunia dari diri kita agar ada ruang bagi kehadiran-Nya. Ketika tubuh dilemahkan oleh lapar, ruh justru mendapatkan ruang untuk berbicara. Dalam kesunyian siang yang panjang, kita mulai mendengar suara-suara halus yang sebelumnya tenggelam dalam riuh kenyang dan kesibukan. Kita mulai merasakan getaran doa yang lebih tulus. Kita mulai menyadari betapa seringnya kita makan tanpa syukur, hidup tanpa sadar.

Mengosongkan bukan berarti menolak dunia, melainkan menempatkannya pada tempat yang semestinya. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak lagi disembah. Makanan tetap dinikmati saat berbuka, tetapi tidak lagi diperbudak oleh selera. Puasa mendidik keseimbangan: menikmati tanpa terikat, memiliki tanpa dimiliki.

 Lapar dan Empati: Jalan Menuju Kasih

Ada dimensi sosial dalam lapar yang tak kalah dalam dari dimensi spiritualnya. Saat kita menahan makan, kita tidak hanya sedang melatih diri, tetapi juga sedang belajar merasakan. Rasa perih di perut adalah jembatan empati menuju mereka yang hidup dalam kekurangan. Namun empati dalam tasawuf bukan sekadar rasa iba. Ia adalah kesadaran kesatuan: bahwa penderitaan orang lain bukanlah sesuatu yang jauh dari kita. Kita semua berada dalam satu jaringan takdir yang sama. Lapar membuat sekat-sekat itu menipis. Ia meruntuhkan kesombongan kelas, jabatan, dan kekuasaan. Di hadapan lapar, semua manusia setara, semua lemah, semua membutuhkan. Dari sinilah jiwa menjadi kenyang oleh kasih. Saat kita berbagi makanan ketika berbuka, yang sesungguhnya kita bagi bukan hanya nasi dan air, melainkan rasa syukur. Dan syukur yang dibagikan akan kembali sebagai ketenteraman. Jiwa yang berbagi akan merasakan kepenuhan yang tidak pernah diberikan oleh kenyang semata.

 Puasa dan Keikhlasan yang Tersembunyi

Puasa adalah ibadah yang tersembunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang menahan lapar dengan tulus atau hanya berpura-pura. Di sinilah puasa menjadi ladang keikhlasan. Ia adalah dialog rahasia antara hamba dan Tuhannya. Dalam tasawuf dikenal maqam muraqabah, merasakan diri selalu diawasi oleh Allah. Puasa menumbuhkan maqam ini secara alami. Ketika kita sendirian dan memiliki kesempatan untuk membatalkan tanpa diketahui siapa pun, namun kita tetap bertahan, di situlah kesadaran Ilahi tumbuh. Bukan karena takut pada manusia, tetapi karena malu pada Tuhan. Keikhlasan seperti ini adalah makanan jiwa yang paling bergizi. Ia mengenyangkan tanpa terlihat. Ia memberi ketenangan tanpa suara. Jiwa yang ikhlas tidak lagi gelisah mencari pengakuan; ia cukup dengan pandangan-Nya.

 Mengenyangkan Jiwa dengan Dzikir dan Tafakur

Puasa membuka pintu tafakur, perenungan mendalam tentang hakikat diri dan tujuan hidup. Saat energi tubuh tidak tersita oleh proses makan yang berlebihan, pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih mudah tersentuh. Dzikir terasa lebih dalam, doa lebih hidup. Dalam kesunyian menjelang berbuka, ada detik-detik yang terasa sakral. Waktu seakan melambat, hati menjadi lembut, dan doa-doa naik tanpa beban. Lapar yang hampir usai justru menghadirkan rasa dekat yang sulit dijelaskan. Seolah-olah jiwa berkata, “Inilah aku, hamba yang lemah, yang tak memiliki apa-apa selain harap kepada-Mu.”

Mengenyangkan jiwa bukan berarti memenuhi semua keinginannya, tetapi memberinya arah. Jiwa kenyang ketika ia tahu kepada siapa ia kembali. Jiwa kenyang ketika ia merasakan makna di balik setiap pengorbanan. Jiwa kenyang ketika ia tidak lagi tersesat dalam keinginan yang tak berujung.

 Transformasi: Dari Tubuh ke Ruh

Puasa adalah perjalanan transformasi. Ia dimulai dari tubuh, tetapi tujuannya adalah ruh. Dari menahan makan, kita belajar menahan amarah. Dari menahan minum, kita belajar menahan kesombongan. Dari menahan syahwat, kita belajar mengendalikan ego. Transformasi ini tidak selalu terasa dramatis. Ia sering hadir perlahan, seperti fajar yang merayap menggantikan malam. Namun jika dijalani dengan kesadaran, puasa akan meninggalkan jejak: hati yang lebih sabar, lisan yang lebih lembut, pandangan yang lebih jernih. Menahan lapar untuk mengenyangkan jiwa berarti menerima bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari pemenuhan, tetapi sering kali dari pengendalian. Bahwa kemerdekaan bukanlah melakukan semua yang diinginkan, melainkan mampu mengatakan “tidak” pada diri sendiri demi sesuatu yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan paradoks suci: dalam kekosongan ada kepenuhan, dalam kelemahan ada kekuatan, dalam lapar ada kenyang. Tubuh mungkin terasa ringan karena kurang asupan, tetapi jiwa terasa berat oleh makna. Ketika azan magrib berkumandang dan seteguk air menyentuh bibir, kita merasakan kebahagiaan sederhana yang mungkin tak pernah hadir di hari-hari biasa. Dari situ kita belajar bahwa nikmat tidak diukur dari banyaknya, tetapi dari kesadaran saat menerimanya. Puasa adalah perjalanan pulang. Pulang dari keserakahan menuju kesederhanaan. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari kenyang yang menipu menuju lapar yang menghidupkan. Semoga setiap lapar yang kita tahan menjadi cahaya yang menerangi batin. Semoga setiap dahaga yang kita rasakan menjadi doa yang mengalir ke langit. Dan semoga jiwa kita benar-benar kenyang, bukan oleh dunia yang fana, tetapi oleh kedekatan dengan Yang Maha Kekal.



Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR