Ibn Athaillah Al-Sakandari: Seorang Faqih Kondang yang “Mencuri” Rahasia Langit Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 20
...

العلم النافع هو الذي ينبسط في الصدر شعاعه وينكشف به عن القلب قناعه Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang cahayanya melapangkan dada dan menyingkapkan tirai kalbu. KAIRO, Mesir. Hari itu, di sebuah ruang bawah tanah lembap yang jarang tersentuh, bagian dari Perpustakaan Al-Azhar Al-Syarif, seorang filolog dan doktor muda, tanpa sengaja menyibak selembar kulit domba yang terselip di antara jilidan teks hukum. Bukan huruf-huruf Arab-nya yang membuat nafasnya tertahan. Namun, catatan marginalia (syarah pinggir) berusia tujuh abad yang ditulis dalam tinta memudar.

Catatan itu berbunyi, “Aku menyaksikannya sendiri: Syeikh Taqiyuddin, seorang faqih galak, menangis tersedu di majelis Ibn ‘Atha’illah yang lembut. Air matanya melelehkan semua argumen. Di Alexandria malam itu, hukum bertemu dengan cinta. Dan, hukum takluk.”

 Ini adalah jejak awal. Ini adalah kasus intelektual memikat dalam sejarah Islam: bagaimana mungkin seorang faqih Mazhab Maliki tulen-murid kesayangan para pembenci tasawuf-tiba-tiba berbalik arah 180 derajat menjadi sufi terbesar dalam Tarekat Syadziliyah, dan menulis buku panduan spiritual (Al-Hikam) yang akan mengguncang dunia?

 Bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

 Tangisan yang Mengubah Segalanya

Kini, kita bayangkan kota Alexandria sekitar tahun 1260 M: Laut Mediterania di utara dan danau Mareotis di selatan. Perdagangan dari Venesia berseliweran dengan jubah para ulama dari Maghrib. Di sini, di kota antara dua air ini, hidup seorang pemuda cerdas bernama Ahmad bin Muhammad bin Athaillah Al-Sakandari (w. 709 H/1309 M). Atau lebih terkenal dengan sebutan Ibn Athaillah Al-Sakandari?

Kala itu, Ibn Athaillah Al-Sakandari bukan sembarang anak muda. Ia adalah bintang ulama muda Mazhab Maliki. Otaknya sangat tajam. Argumennya mematikan. Masa depannya cerah. Gurunya, Abu Al-Hajjaj Al-Uqshuri, adalah seorang pembasmi bid‘ah garang. Bagi gurunya, tasawuf-dengan zikir keras dan klaim ma‘rifat-nya-adalah bid‘ah terbesar. Ya, bid‘ah terbesar. Dan, hari itu, Ibn Athaillah muda melihat sebuah kelompok baru di kotanya: Tarekat Syadziliyah.

Dipimpin oleh seorang ulama kondang dan sufi karismatik asal Murcia, Andalusia, bernama Abu Al-Abbas Al-Mursi, mereka tidak berpakaian compang-camping. Mereka tampil  dengan busana elegan. Namun, ajaran mereka, menurut Ibn Athaillah Al-Sakandari, menggangu. Malah, sangat mengganggu. Mereka bicara tentang “fana” (lebur dalam Tuhan). Mereka menyebut “dzauq” (rasa spiritual) lebih tinggi ketimbang “ilmu”.

“Ini berbahaya,” gumam Ibn Athaillah Al-Sakandari. Dengan mentalitas detektif hukum, ia mengumpulkan ‘barang bukti’ penyimpangan mereka. Ketika ‘barang bukti’ itu ia rasa telah lengkap, ia lantas datang ke majelis mereka. Bukan untuk belajar. Namun, untuk menginterogasi dengan garang.

Ibn Athaillah Al-Sakandari kemudian maju ke hadapan Abu Al-Abbas Al-Mursi: meluncurkan pertanyaan-pertanyaan teologis yang runcing bak panah beracun. Ia menunggu sang syeikh asal Andalusia itu terjebak. Namun, Al-Mursi tidak menjawab. Ia hanya memandangnya. Lalu, dengan suara lembut, namun menembus kalbu dan benak, ia berkata, “Ibn Athaillah. Sejatinya, ilmu yang kau banggakan itu adalah sekat kuat antara dirimu dan Tuhanmu. Kau sibuk mempelajari peta, namun kau tak pernah berjalan. Kau menganalisis air laut, namun kau tak pernah tenggelam di dalamnya.”

 Seorang Agen Ganda Spiritual

Dentuman pun meledak. Sangat keras. Bukan di telinga. Namun, di jiwa. Kalimat itu, bagi Ibn Athaillah Al-Sakandari, bukan sekadar kata-kata. Kalimat itu bagaikan kunci universal yang tiba-tiba membuka semua pintu yang selama ini terkunci rapat. Logikanya yang runcing tiba-tiba tumpul. Argumentasinya menguap dan sirna.

Ibn Athaillah Al-Sakandari tak kuasa membantah, karena yang ia rasakan adalah pengalaman. Bukan proposisi. Inilah konversi intelektual paling elegan dalam hidupnya. Bukan karena mukjizat spektakuler. Namun, karena kebenaran yang disampaikan tepat ke pusat keraguannya. Saat itu juga, “pertahanan” sang faqih yang galak dan garang asal Alexandria itu meleleh.

Selepas “ditundukkan” oleh Abu Al-Abbas Al-Mursi, Ibn Athaillah Al-Sakandari tidak menjadi sufi yang lari dari dunia. Ia kini menjadi sesuatu yang lebih langka: Agen Ganda Spiritual. Di siang hari, ia tetap sebagai qhadi (hakim), yang memutuskan perkara warisan dan sengketa dagang dengan ketajaman fikih Mazhab Mliki. Sementara di malam hari, ia kini adalah Syeikh Ibn Athaillah Al-Sakandari yang membimbing kalbu para pencari Tuhan dengan kearifan tasawwuf.

Dengan kata lain, kini Ibn Athaillah Al-Sakandari berubah menjadi jembatan hidup. Ia membuktikan bahwa syariat dan hakikat bukan musuh. Syariat dan hakikat adalah dua sisi dari satu jalan yang sama. Syariat adalah tubuh. Hakikat adalah jiwa. Tanpa syariat, hakikat menjadi mimpi liar. Tanpa hakikat, syariat jadi robot tanpa nyawa. Lalu, ia menulis sebuah karya masterpiecenya: Al-Hikam. Jangan dibayangkan karya tersebut tebal. Karya itu sebuah karya tipis. Namun,  setiap kalimatnya bak granat makna. Kini, kita simak strukturnya seperti detektif memecahkan kode:

 Hikmah #2: “Keinginanmu untuk lepas dari kesibukan urusan duniawi, padahal Allah telah menempatkanmu di situ, termasuk nafsu tersembunyi. Sedangkan keinginanmu untuk masuk ke dalam kesibukan duniawi, padahal Allah masih melepaskanmu dari urusan itu, sama saja dengan langkah mundur dari tekad luhur.” Simak hikmah ini! Ibn Athaillah Al-Sakandari menggunakan logika hukum (sebab-akibat/asbab) untuk membongkar nafsu spiritual! Ini jenius! Ia mengemukakan, “Engkau ingin lari dari urusan duniawi agar merasa diri suci? Itu cuma nafsu tersembunyi! Kerjakan tugas duniamu dulu, baru bicara!”

 Hikmah #25: “Apa yang kau minta tak akan terhalang selama kau memintanya kepada Tuhanmu. Namun, apa yang kauminta tak akan datang selama kau mengandaldalkan dirimu sendiri.” Ini adalah psikologi resilien tingkat tinggi. Ia mengubah “penundaan jawaban doa” dari sebuah kegagalan menjadi bagian dari dialog dengan Yang Maha Kuasa. Luar biasa!

Al-Hikam, sejatinya, adalah panduan lapangan seorang agen ganda spiritual. Setiap kalimat adalah isyarat (hikmah) bagi mereka yang terjebak di persimpangan antara dunia dan akhirat, antara usaha dan penyerahan.

 Bom Waktu Spiritual

Ibn Athaillah Al-Sakandari berpulang pada tahun 1309 M. Namun,  Al-Hikam-nya adalah bom waktu.

Abad 14: Menyebar ke Maghrib dan Afrika Barat.              

Abad 16: Tiba di Nusantara. Sunan Bonang, salah satu Wali Songo, dikabarkan mengajarkannya.          

Abad 21: Ditemukan di rak buku anak muda urban New York, Istanbul, dan Jakarta. Diterjemahkan ke puluhan bahasa.

Mengapa Al-Hikam tetap relevan hingga kini?

Ini karena masalah yang dihadapinya-pertarungan antara logika dan spiritualitas, antara kontrol dan penyerahan-adalah masalah manusia abadi. Ibn Athaillah Al-Sakandari tidak memihak salah satu. Ia hanya memberikan peta untuk menavigasi keduanya.

 Kini, kita kembali ke pakar filologi di ruang bawah tanah lembap yang jarang tersentuh, bagian dari Perpustakaan Al-Azhar. Selepas 20 tahun meneliti, ia menyimpulkan:  Ibn Athaillah Al-Sakandari bukanlah seorang yang “berubah.” Ia adalah seorang yang “menyempurna.” Perjalanannya dari fikih ke tasawuf adalah perjalanan dari kulit menuju inti, dari hukum yang mengatur tindakan menuju makna yang melandasi seluruh keberadaan. Al-Hikam adalah peta perjalanan itu  sebuah “novel batin” yang plotnya adalah pergulatan jiwa, dan karakternya adalah nafsu, akal, dan kalbu.

Di dunia modern yang terfragmentasi, di mana agama kerap dikerdilkan menjadi ritual atau dogma, pesan Ibn Athaillah Al-Sakandari justru menemukan relevansinya yang paling tajam: bahwa spiritualitas yang sejati harus membumi, namun tak terikat bumi, bahwa pengetahuan yang benar melampaui dikotomi, dan bahwa cahaya sejati adalah yang memendari tanpa membutakan.

 Tujuh abad kemudian, sejak kelahiran Ibn Athaillah Al-Sakandari, di tengah kegaduhan digital dan kegelisahan eksistensial manusia modern, isyarat-isyarat pendek dari sang faqih Alexandria, Mesir itu masih terbang melintasi waktu, bagai burung-burung yang tak kenal lelah, mencari kalbu yang siap mendengar, dan pikiran yang berani menyelam! 


Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR