Puasa, ialah menahan diri dari perbuatan keji, pertengkaran, percekcokan dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Rasulullah saw bersabda: إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ (رواه الشيخان) Artinya: Sesungguhnya puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah bersikap keji dan jangan bertindak bodoh, jika ada orang yang mengganggunya atau mencacinya maka hendaklah ia berkata: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa (HR al Bukhari dan Muslim). Nabi saw juga berbicara tentang dua orang perempuan yang saat berbuka puasa membicarakan keburukan orang lain.
Sabda Nabi Muhammad SAW
إِنَّ هَاتَيْنِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللهُ لَـهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمَا، جَلَسَتْ إحْدَاهُمَا إِلَى الأُخْرَى فَجَعَلَتَا يَأْكُلَانِ لُـحُوْمَ النَّاسِ (رواه أحمد)
Artinya: Sesungguhnya kedua perempuan ini menahan diri dari apa yang dihalalkan Allah bagi keduanya dan berbuka dengan apa yang diharamkan bagi keduanya. Salah satu dari keduanya duduk menemani temannya dan keduanya memakan daging-daging manusia (berbuat ghibah), (HR Ahmad).
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
(رواه الحاكم والبيهقي وابن خزيمة وابن حبّان (
Artinya: Puasa yang sempurna tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, melainkan menahan diri dari perkataan-perkataan dan perbuatan yang diharamkan atau dimakruhkan, (HR al Hakim, al Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban
Sehingga “As-shaaimiin”;orang yang berpuasa itu ketika ia telah merasa lapar dari biasanya perut kenyang, dan kelezatan kenikmatan sebagai jalan kesenanganpun ditahan(untuk sementara), maka kendali puasa itu berpengaruh besar, padahal rasa lapar puasa itu betapa pedihnya.
Puasa itu penuh aneka hikmah; lahiriyahnya seakan siksaan nan pedih namun batinnya “rahmah kasih sayang-Nya”.
Sikap peduli dan tak tega melihat orang lain kesusahan(Syafaqah) itulah atsar puasa. Memotivasi diri untuk selalu memberi dan mengangkat harkat siapapun diantara makhluk-Nya.
Puasa adalah pemecah keangkuhan(Kibir), mengajari sikap santun penuh ketelatenan. Memberlakukan kebaikan disetiap kesempatan.
Basyar Bin Harist:
Rasa lapar (puasa) dapat menjernihkan hati, melumpuhkan hawa napsu dan memberikan ilmu yang dalam.
Dzun Nun Al-Mishri:
Aku tak pernah makan kekenyangan, tak pernah minum sampai segar kecuali aku telah bermaksiat kepada Allah atau bermaksud maksiat kepada-Nya.
Yahya Bin Mu’adz:
Jika seorang murid diuji dengan kenyang banyak makan, maka malaikatpun menangis karena sayang kepadanya. Siapa yang diuji dengan pola makannya yang rakus maka ia telah menyulut api syahwat.
Dalam diri anak Adam terdapat seribu anggota keburukan, seluruhnya berada dalam genggaman setan yang berhubungan dengan syahwat.
Derajat puasa:
1. Puasa umum/awam : “Kafful-Bathni wal-Farji ‘an Qodho-is-syahwat”, menahan selera perut dan farji tak menunaikan syahwatnya.
2. Puasa khusus: “ Sounul-Lisan ‘an nahwil kadzbi wal-Ghibah”. menjaga lisan dari dusta dan gibah.
3. Puasa khowashil-khowas: “Shounul-Qalbi ‘anil Aghyaari wal-Hujubi”, memelihara hati nurani agar tak tertipu(dunia fana) dan tak terhijab(dari rahmat Allah).
Orang berpuasa makin dekat kepada Allah lantaran menjauhkan syahwat terbesar dalam dirinya;makan, minum,berhubungan suami isteri.
Berpuasa agar menjadi orang bertaqwa.(La’allakum Tattaquun)
Terdapat 7 Kesan ( Atsar) ketaqwaan atas puasa yang dilakukan.
1. Adakah ketika anda memasuki waktu pagi hari benar-benar merasa takut terhadap Allah dalam setiap perkara yang anda kelola, dan setiap orang yang anda lindungi?
2. Adakah anda menjaga lisan dari setiap perkataan buruk dan madarat?
3. Adakah anda menjaga pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah SWT?
4. Adakah anda menjaga diri dari perkara subhat?
5. Adakah anda menghentikan langkah maksiat, dan istiqomah dalam kebaikan?
6. Adakah anda berhati-hati menghindari konsumsi yang haram?
7. Adakah anda bersegera menuju panggilan Allah dan mengharap keridoan Allah SWT?
“Saafiruu Tarbahuu, wa shuumuu Tasihhuu, Wa Aghzuu Taghnamuu.”
Artinya;
Berwisatalah niscaya anda mendapat keuntungan, dan berpuasalah niscaya anda sehat dan berperanglah niscaya anda memperoleh harta ghanimah”. HR Ahmad dari Abi Hurairah ra.
“Al-iimaanu Nishfaani; nisfun fissobri wanisfun fis-syukri”. HR. Baihaqi.
Artinya;
Iman terdapat dua bagian: sebagian dalam kesabaran dan sebagian lainnya pada rasa syukur.
Istilah-istilah dalam Ibadah Haji Assalaam
Do'a Niat Mandi Sunnah dan Shalat Sunnah Ihram dalam Ibadah Haji Assalaam
Ziarah Sekitar Masjidil Haram Assalaam
Catatan Perjalan Ibadah Haji 2025 : ARMUZNA Rangkaian Suci Puncak Ibadah Haji Assalaam
Posisi Terhormat Ibu Dalam Konsep Islam Assalaam
Haji 2025 Tak Lagi Seragam: Ketika Satu Kloter Terbelah Karena Syarikah Assalaam
Marhaban Ya Ramadhan : Oleh KH. Lukman Hakim Assalaam
"Menuju Haji Mabrur dengan Bimbingan Terarah" Assalaam
“Menepi Sejenak di Tanah Cinta: Saat Hati Bertemu Cahaya Nabawi” Assalaam
Tandatangani MoU, Indonesia akan Berangkatkan 221 Ribu Jemaah pada Operasional Haji 2025 : 12 Jan 2025 ; oleh Mustarini Bella Vitiara Assalaam
Belajar dari Unta: Makna dan Hikmah dari Keberadaannya Assalaam
7 Amal Sholeh dengan Pahala Seperti Haji dan Umrah Assalaam
Tempat Turunnya Wahyu Pertama kepada Rasulullah SAW Assalaam
Qolbun Salim: Hati yang Bersih dalam Pandangan Islam Assalaam
Ridho Allah dan Cinta-Nya: Tanda-Tanda yang Diberikan kepada Hamba-Nya Assalaam
Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.
Terima & LanjutkanPerlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR