Umrah dan Keberkahan Ramadhan di Masjidil Haram

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 16
...

Ramadhan adalah bulan ketika waktu seakan melambat, dan jiwa dipanggil untuk pulang. Di antara seluruh tempat di muka bumi, Masjidil Haram menjadi pusat magnet ruhani yang paling kuat, tempat di mana kerinduan manusia kepada Tuhannya menemukan bahasa yang paling jujur. Ketika umrah dilaksanakan di bulan Ramadhan, ibadah itu tidak lagi sekadar rangkaian manasik, melainkan sebuah perjalanan sufistik, sebuah safar batin menuju kesadaran tauhid yang mendalam.

Dalam tradisi tasawuf, ibadah tidak diukur dari banyaknya gerakan, melainkan dari kedalaman kehadiran hati. Maka umrah di bulan Ramadhan, terlebih di Masjidil Haram, adalah pertemuan antara ruang suci, waktu suci, dan jiwa yang tengah dibersihkan oleh lapar, dahaga, dan rindu.

Ka’bah bukan sekadar bangunan batu hitam yang dibalut kiswah. Dalam pandangan sufistik, Ka’bah adalah simbol pusat kesadaran tauhid, titik di mana segala orientasi kembali kepada Dzat Yang Maha Esa. Para sufi menyebut Ka’bah sebagai qiblat al-ajsad (kiblat jasad), sementara hati manusia adalah qiblat al-arwah (kiblat ruh). Ketika seorang hamba memasuki Masjidil Haram di bulan Ramadhan, ia sesungguhnya sedang memasuki ruang batin yang paling dalam. Ribuan manusia yang thawaf mengelilingi Ka’bah melambangkan satu kenyataan hakiki bahwa seluruh makhluk sedang bergerak mengelilingi kehendak Allah, sadar ataupun tidak. Thawaf menjadi pelajaran kosmik bahwa hidup bukan tentang menjadi pusat, tetapi tentang mengelilingi Yang Maha Pusat.

Setiap rukun umrah memiliki makna batin. Ihram bukan sekadar melepas pakaian biasa dan mengenakan dua helai kain putih, melainkan simbol pelepasan identitas duniawi. Gelar, jabatan, dosa masa lalu, bahkan kebanggaan diri, semuanya ditanggalkan. Seorang sufi melihat ihram sebagai latihan fana’, lenyapnya ego di hadapan keagungan Ilahi. Thawaf adalah zikir dengan tubuh. Setiap putaran adalah pengakuan diam bahwa “Aku bukan apa-apa, dan Engkau adalah Segalanya.” Sa’i antara Shafa dan Marwah bukan sekadar napak tilas Hajar, tetapi gambaran perjalanan batin manusia antara harap dan cemas, antara doa dan usaha, antara kepasrahan dan ikhtiar. Sementara tahallul adalah isyarat lahirnya diri baru, jiwa yang lebih ringan karena telah melepaskan beban kesombongan.

Para arif billah meyakini bahwa Ramadhan adalah bulan ketika hijab antara langit dan bumi menipis. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi proses tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Dalam kondisi lapar dan lemah, manusia belajar tentang hakikat dirinya: rapuh, bergantung, dan sangat membutuhkan rahmat Allah. Ketika umrah dilakukan dalam keadaan puasa, setiap langkah terasa lebih sunyi dan bermakna. Haus yang menyayat tenggorokan mengajarkan kerendahan hati; lelah yang menggerogoti tubuh menjadi zikir tanpa kata. Inilah yang disebut para sufi sebagai ibadah diam, ketika tubuh berdoa tanpa suara, dan hati berbicara tanpa bahasa.

Malam Ramadhan di Masjidil Haram adalah pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan logika. Ribuan tangan terangkat, jutaan doa berbaur, dan air mata mengalir tanpa komando. Dalam perspektif sufistik, inilah momen tajalli, manifestasi rahmat Allah yang melimpah ke dalam kesadaran kolektif umat. Shalat tarawih dan qiyamul lail di Masjidil Haram bukan hanya ritual, melainkan pertemuan intim antara hamba dan Tuhan. Bacaan Al-Qur’an yang mengalun panjang menembus lapisan kesadaran, mengguncang hati yang keras, dan melembutkan jiwa yang letih. Seorang sufi tidak mendengar ayat-ayat itu dengan telinga, melainkan dengan hati yang sedang rindu.

Keberkahan Ramadhan di Masjidil Haram tidak selalu hadir dalam bentuk ekstase spiritual. Kadang ia hadir sebagai ketenangan yang diam, rasa cukup yang sederhana, atau kesadaran mendalam bahwa hidup ini fana. Para sufi mengajarkan bahwa barakah bukanlah tambahan materi, melainkan kedalaman makna. Umrah di bulan Ramadhan mengajarkan bahwa perjalanan sejati bukan dari rumah ke Makkah, tetapi dari ego menuju keikhlasan, dari lalai menuju hadir, dari merasa mampu menuju berserah. Ka’bah yang kita thawafi di luar sejatinya mengingatkan kita pada Ka’bah di dalam diri, hati yang harus dijaga kesuciannya agar layak menjadi tempat pandangan Allah.

Seorang yang pulang dari umrah Ramadhan tidak diukur dari oleh-oleh yang dibawanya, melainkan dari perubahan cara memandang hidup. Jika hatinya lebih lembut, lisannya lebih terjaga, dan egonya lebih jinak, maka ia telah menangkap sebagian rahasia perjalanan itu. Umrah dan Ramadhan di Masjidil Haram adalah undangan untuk mengalami Islam bukan hanya sebagai hukum, tetapi sebagai cinta. Cinta yang membakar dosa, melebur kesombongan, dan menuntun jiwa kembali ke asalnya, Allah Yang Maha Pengasih. Semoga setiap langkah thawaf kita tercatat sebagai langkah pulang, dan setiap doa di bawah langit Masjidil Haram menjadi jembatan menuju kedekatan sejati dengan-Nya. [kh. lukman]


Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR