UMRAH RAJAB, HIJRAH BATIN DARI KELALAIAN MENUJU KESADARAN ILAHI

  • Assalaam
  • H. Muttaqien
  • 257
...

Rajab termasuk empat bulan haram (al-asyhur al-hurum), sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan pada saat diciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (dimuliakan).” (QS At-Taubah: 36). Menurut para mufassir diantaranya Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir bahwa yang dimaksud bulan haram adalah waktu yang dimuliakan, larangan berbuat dosa diperketat dan melaksanakan amal sholeh lebih agung dan mulia. Rajab adalah waktu mulia, bukan karena ibadah tertentu diwajibkan, tetapi karena kondisi spiritual yang dijaga oleh syariat.

Umroh di bulan Rajab menjadi penting untuk dilakukan walaupun secara khusus tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan keutamaan khusus umrah Rajab namun Ibnu Umar pernah berumrah di bulan Rajab. Para ulama memahami ini sebagai kebolehan, bukan pensyariatan keutamaan.

Dalam ushul fikih dikenal kaidah, “Keutamaan amal bisa bertambah karena waktu, tempat, dan keadaan.” seperti shalat di Masjidil Haram dan ibadah di bulan Ramadhan. Bulan Rajab termasuk keutamaan waktu secara umum. Maka rahasia syar‘i umrah Rajab adalah keserasian antara amal besar (umrah) dan waktu mulia (bulan haram).

Bagi seorang mukmin, perjalanan menuju tanah suci bukanlah sekadar perpindahan geografis dari satu titik koordinat ke titik lainnya. Ia adalah sebuah peristiwa eksistensial. Di antara bulan-bulan yang ada, Rajab muncul sebagai gerbang pembuka menuju pendakian spiritual yang agung. Melaksanakan Umrah di bulan Rajab bukan hanya tentang menunaikan manasik, melainkan sebuah "Hijrah Awal" sebuah langkah pertama untuk meninggalkan negeri kelalaian menuju negeri kehadiran di hadapan Allah SWT.

Dalam tradisi sufistik, waktu tidaklah datar. Ia memiliki lapisan-lapisan keberkahan yang berbeda. Dzun Nun Al-Misri pernah mengibaratkan bahwa Rajab adalah bulan untuk menanam benih, Sya'ban adalah bulan menyiram, dan Ramadhan adalah bulan memanen.

Melakukan Umrah di bulan Rajab berarti menanam benih kesadaran (yaqzhah) di tanah hati yang paling dalam. Ketika seorang jamaah melangkah keluar dari rumahnya di bulan ini, ia sedang melakukan dekonstruksi terhadap rutinitas duniawi yang seringkali membelenggu jiwa. Di sinilah makna hijrah batin dimulai, meninggalkan keterikatan pada makhluk untuk menuju kemerdekaan di bawah naungan Sang Khaliq.

Musuh terbesar dalam perjalanan spiritual bukanlah dosa besar yang tampak, melainkan ghaflah atau kelalaian yang halus. Kelalaian adalah kondisi di mana hati merasa hidup namun sebenarnya mati terhadap kehadiran Tuhan. Kita seringkali terikat pada rutinitas yang mekanis - bekerja, makan, dan tidur - tanpa melibatkan kesadaran akan makna penciptaan.

Umrah Rajab sebagai Hijrah dari Lalai berarti, 1) Transformasi Pandangan: Saat menatap Ka'bah, seorang peziarah tidak hanya melihat bangunan batu, tetapi melihat simbol pusat gravitasi ruhani. Ia sadar bahwa selama ini hatinya seringkali "bertawaf" mengelilingi ego, harta, dan jabatan, 2) Keheningan Rajab: Sebagai salah satu bulan haram (yang disucikan), Rajab menawarkan frekuensi ketenangan yang tinggi. Hijrah di sini berarti memindahkan kebisingan dunia di kepala ke dalam keheningan zikir di hati.

Seringkali, ibadah yang dilakukan berulang kali terjebak menjadi sekadar gerak fisik tanpa ruh. Shalat menjadi senam, dan Umrah menjadi sekadar wisata religi. Perspektif sufistik menuntut adanya Hijrah dari Rutinitas menuju Niat yang Murni.

Dalam bahasa Arab, Umrah berasal dari kata I'timar berarti berkunjung atau memakmurkan. Secara batin, ini berarti "memakmurkan hati dengan niat". Hijrah ini melibatkan peralihan dari Adat (kebiasaan) menuju Ibadat (penghambaan). Oleh karena itu ; a) Ihram sebagai Simbol Penelanjangan Ego. Melepaskan pakaian berjahit bukan sekadar aturan fikih, melainkan hijrah dari identitas sosial menuju identitas hamba. Di hadapan Allah, tidak ada direktur atau buruh, yang ada hanyalah jiwa yang rindu, b) Sa’i sebagai Simbol Pencarian. Berlari antara Shafa dan Marwah adalah representasi dari kegelisahan batin mencari "air kehidupan" (makrifat). Ia bukan rutinitas lari kecil, melainkan simbol bahwa seorang hamba tidak akan pernah berhenti berhijrah sebelum menemukan ridha Tuhannya.

Setiap tahapan Umrah Rajab adalah stasiun (maqam) dalam hijrah batin : a) Tawaf Adalah simbol peniadaan diri. Sebagaimana planet mengelilingi matahari, jiwa berputar mengelilingi kehendak Allah. Hijrah di sini adalah berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat semesta, b) Tahallul. Memotong rambut adalah simbol pembersihan dari pikiran-pikiran kotor dan kesombongan intelektual. Ia adalah pintu masuk menuju "fitrah" baru setelah melakukan perjalanan panjang.

Umrah Rajab adalah prolog yang menentukan kualitas epilog kita di bulan Ramadhan. Jika hijrah batin ini berhasil dilakukan, maka seorang peziarah akan pulang tidak hanya membawa oleh-oleh fisik, tetapi membawa "hati yang bercahaya" (qalb munir). Ia kembali ke tanah airnya namun tidak kembali ke "kebiasaan lamanya". Ia tetap bekerja, tetap berkeluarga, namun orientasi batinnya telah berhijrah. Baginya, setiap tempat kini adalah sajadah, dan setiap waktu adalah kesempatan untuk hadir bersama Allah. Inilah hakikat Umrah Rajab: sebuah momentum emas untuk menyalakan kembali pelita iman yang sempat redup oleh debu-debu duniawi. Semoga bermanfaat. [Drs. KH. Lukman Hakim]


Lainnya

Cookie Consent


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.

Terima & Lanjutkan

Perlu informasi lebih lanjut? Kebijakan Privasi – atau – Kebijakan Cookie dan GDPR